Laporan Bacaan Buku
Widya Fitri
Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas
Islam Riau
Pekanbaru
2022
A.
Pendahuluan
Judul
Buku : Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Pengrang : Prof. DR. Hendry Guntur Tarigan
Penerbit : Angkasa Bandung
Tahun
Terbit : 1979
Cetakan : 2008
Kota : Bandung
Lembaga
penerbit :
Tebal
buku :149 halaman
Buku
Pembanding I
Judul
buku: Keterampilan Membaca Cerdas
Penulis : Dr. Ermanto, M.Hum
Penerbit : UNP Prees
Cetakan : 2008
Tebal
buku: 179 halaman
Garis
besar isi buku:
Bab
I: Tinjauan umum
a. mengenai keterampilan berbahasa
hubungan keterampilan antara lain; hubungan antra berbicara dan menyimak,
hubungan antara menyimak dengan membaca, hubungan antara berbicara dan membaca,
hubungan antara ekspresi lisan dan ekspresi tulis,
b. Membaca
Tujuan serta jenis-jenisnya yang
terkandung dalam membaca; pengertian batasan membaca, tujuan membaca, membaca
sebagai suatu keterampilan, aspek-aspek membaca, mengembangkan keterampilan
membaca,tahap-tahap perkembangan membaca.
Bab
II: Membaca nyaring
a. Pengertian
b. Keterampilan
yang dituntut dalam membaca nyaring
c. Peningkatan
keterampilan membaca nyaring
Bab
III: Membaca dalam hati
a. Pengantar
b. Membaca
ekstensif
Membaca ekstensif antara lain; membaca
survei, membaca sekilas, membaca dangkal.
c. Membaca
intensif
d. Keterampilan
yang dituntut pada membaca dalam hati
Bab IV: Membaca telaah isi
a. Pendahuluan
b. Membaca
teliti
Membaca paragraf dengan
pengertian,membaca pilihan yang lebih panjang, membuat catatan, dalam kelas,
menelaah tugas,
c. Membaca
pemahaman;
Standar kesastraan, resensi kritis,
drama tulis, pola-pola fiksi.
d. Membaca
kritis;
Memahami maksud penulis,manfaat
kemampuan membaca dan berpilir kritis, memahami organisasi dasar
tulisan,menilai penyajian pangarangmenerapkan prinsip-prinsip kritis pada bacaan
sehari-hari, meningkatkan minat baca, prinsip-prinsip pemilihan bahan bacaan,
membaca majalah,
e. Membaca
ide;
Pembaca yang baik tahu mengapa dia membaca, pembaca
yang baik memahami apa yang dibacanya, pembaca baik harus menguasai kecepatan
membaca, pembaca yang baik harus mengenal media cetak
Bab V: membaca telaah bahasa
a. Pendahuluan
b. Membaca
bahasa;
Memperbesar daya kata, mengembangkan
kosa kata kritik,
c. Membaca
sastra;
Bahasa ilmiah dan bahasa sastra, gaya
bahasa
Pembahasan
·
Laporan Bagian Buku
Bab
I: Keterampilan Berbahasa
A.
Keterampilan berbahasa
Pada bab ini, penulis langsung menyebutkan
bagian-bagian keterampilan berbahasa dalam kurikulum sekolh yaitu:
1.
Keterampilan menyimak /mendengarkan
2.
Keterampilan berbicara
3.
Keterampilan membaca
4.
Keterampilan menulis
Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, kita biasanya melalui suatu
hubungan urutan yang teratur: mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak dan mendengarkan,
selanjutnya berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak
dan berbicara sudah kita pelajari sebelum masuk sekolah, sedangkan membaca dan
menulis kita pelajari saat berada disekolah. Keempat keterampilan tersebut pada
dasarnya merupakan satu kesatuan ( Dawson, (et-al) 1963 : 27 ). Setiap
keterampilan berbahasa tersebut hubungannya sangat erat sekali dengan
proses-proses berpikir yang mendasari bahasa.
1.
Hubungan antara berbicara dan menyimak
Pada bagian ini , penulis menjelaskan
mengenai hubungan antara berbicara dan menyimak yaitu: pertama, ujaran (speech) biasanya kita pelajari pada waktu menyimak
dan meniru (imitasi). Kedua,
kata-kata yang akan dipakai dan dipelajari oleh anak biasanya ditentukan oleh
perangsang(stimuli) yang mereka dapatkan. Ketiga,
ujaran akan mencerminkan pemakaian bahasa dirumah dan di dalam masyarakat
tempat kita tinggal. Keempat, anak
yang lebih muda dia akan dapat lebih memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih
panjang dan rumit daripada kalimat-kalimat yang dapat dia ucapkan. Kelima, dengan meningkatkan keterampilan
menyimak nerarti dapat membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang. Keenam, bunyi ataau suara merupakan
suatu faktor yang penting alam meningkatkan cara pemakaian kata-kata anak. Ketujuh, berbicara dengan bantuan alat
praga(visual aids) akan dapat menghasilkan penangkapan informasi yang lebih
baik pada pihak menyimak.
2.
Hubungan antara menyimak dan membaca
Pada bagian ini, penulis menjelaskan
tentang keterampilan menyimak juga merupakan dasar atau faktor penting bagi
suksesnya seseorang dalam melaksanakan belajar membaca efektif.
Ada
beberapa hubungan antara menyimak dan membaca antara lain: (a) pengajaran serta
petunjuk-petunjuk dalam melaksanakan membaca diberikn oleh guru melalui bahasa
lisan. (b) menyimak adalah suatu cara atau mode utama bagi pelajaran lisan
selama bertahun-tahun permulaan di sekolah. (c) menyimak pemahaman lebih unggul daripada membaca pemahaman,
anak-anak sering gagal dalam memahaminya dan meraka tetap menyimpan,memakai dan
menguasai. (d) para pelajar sangat membutuhkan bimbingan dalam belajar
menyimak. (e) kosa kata/perbendaharaan kata menyimak sangat terbatas mempunyai
kaitannya dengan kesukaran dalam proses belajar membaca dengan baik. (f) bagi
seorang pelajar yang lebih besar atau tinggi kelasnya, korelasi antara kosakata
baca dan kosakata simak sanagtlah tinggi. (g)diskriminasi pendengaran yng jelek
seringkali dihubungkan dengan membaca tidak efektif. (h) menyimak akan turut
membantu anak untuk menangkap ide utama.
3.
Hubungan antara berbicara dan membaca
Pada pembahasan bagian ini, penulis
menjelaskan hubungan antara berbicara dan membaca antara lain: a) performasi
atau penampilan membaca sangat berbeda dengan kecakapan bahasa lisan. b) pola
pengajaran seseorang yang Pada tuna aksaraa atu buta huruf sangat mengganggu
proses pelajaran membaca. c) pada tahun permulaan sekolah ujaran membentuk
suatu pelajaran bagi pelajaran membaca. d) kosa kata khususnya mengenai bahan
bacaan haruslah diajari secara langsung.
4.
Hubungan ekspresi lisan dan ekspresi
tulis
Hubungan antara ekpresi lisan dan ekspresi
tulis adaalah ketika seseorang anak dapat lancar menulus biasanya dia dapat
pula menuliskan pengalaman-pengalaman serta dia juga dapat menceritakan kepada
teman-temannya.
B.
Membaca
1.
Pengertian membaca
Dalam buku penulis membaca dijelaskan
adalah suatu yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan
yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata/bahasa tulis. disamping
yang disampaikan penulis membaca dapat juga diartikan sebai suatu alat untuk
mendapatkan informasi, berkomunikasi dengan orang lain dengan media tertulis.
2.
Tujuan membaca
Pada bagian ini dijelaskan tentang tujuan
membaca. Tujuan membaca adalah untuk mendapatkan informasi yang berupa isi dari
bacaan tersebut. ada beberapa hal yang dianggap penting dalam membaca yaitu: a)
untuk menemukan penemuan yang telah
dilakukan tokoh. b) untuk mengetahui apakah topik itu menarik atau tidak. c)
untuk mengetahui apa yang terjadi pada cerita.
3.
Membaca sebagai suatu keterampilan
Dalam buku penulis terdapat 3 komponen
membaca yaitu: a) pengenalan antara aksara dengan tanda-tanda baca. b) suatu
kolersi aksara dengan tanda-tanda baca serta unsur-unsur linguistik yang
formal. c) hubungan lebih lanjutnya dari a dan b dengan makna.
4.
Aspek-aspek membaca
Di bagian ini penulis menjelaskan dua aspek
membaca yaitu: a) keterampilan yng bersifat mekanis yang terletak pada urutan
lebih rendah. Aspek ini meliputi: 1)
pengenalan bentuk huruf. 2) pengenalan
unsur-unsur linguistik. 3) pengenalan hubungan atau kerespondasi pola ejaan dan
bunyi. 4) kecepatan membaca ke taraf lambat. b) keterampilan bersifat pemahaman
yang terletak pada urutan yang lebih tinggi.aspek ini meliputu: 1) memahami
pengertian sederhana. 2) memahami signifikansi atau makna. 3) evaluasi
penilaian. 4) kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan deengan
keadaan.
5.
Mengembangkan keterampilan membaca
Usaha-usaha yang dapat kita lakukan untuk
mengembangkan terampilan membaca antara lain: a) kita harus memperkaya kosa kata. b) kita
harus memahami makna atau struktur-struktur kata, kalimat. c) kita harus bisa
menjelaskan kawasan atau pengertian kiasan,
sindiran, ungkapan, pepatah, peribahasa
dan lain-lain.
6.
Tahap-tahap perkembangan membca
Tahap
1: para pelajar harus membaca bahan yang telah di pelajarinya dan mengucapkan
dengan baik, serta mereka harus mampu menceritakan kembali apa yang telah
mereka baca.
Tahap
2: para guru bahasa asing harus menyusun kata-kata serta struktur-struktur yang
telah diketahuinya menjadi bahan dialog atau paragraf yang beraneka ragam, dan
para pelajar harus dibimbing atau dibantu dalam membaca apa yang telah disusun.
Tahap
3: para pelajar harus mulai membaca bahan yang berisi sejumlah kata dan
struktur yang masih dianggap asing atau belum bisa dimengerti bagi mereka.
Tahap
4: pada tahap ini kita dianjurkan untuk menggunakan teks-teks sastra yang telah
disederhanakan seperti majalah untuk bahan bacaan.
Tahap
5: pada tahap ke lima ini, kita tidak harus membatasi bahan bacaan yang akan
kita baca.
Bab
II:Membaca Nyaring
A.
Pengertian
Pada bab ini penulis menjelaskan pengertian
membaca nyaring. Ditunjau dari segi terdengar atau tidaknya suara pembaca waktu
dia membaca, terdapat beberapa proses yaitu: a) membaca nyaring, membaca
bersuara, dan membaca lisan. b) membaca dalam hati.
Membaca
nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru ,
muridmaupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk
menangkap serta memahami informasi, pikiran, dan perasaan seorang pengarang.
Orang yang membaca nyaring pertama-tama dia harus mengerti makna dan perasaan
yang terdapat dalam bahan bacaan.oleh karena itu dalam mengajarkan membaca
nyaring guru hendaknya memahami proses komunikasi dua arah.
B.
Keterampilan –keterampilan yang dituntut
dalam membaca nyaring
Pada bagian ini penulis menyajikan daftar
membaca nyaring untuk menolong para guru dalam menjalankan tugasnya untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam membaca nyaring antara lain:
Kelas I: a) mempergunakan ucapan yang tepat.
b) menggunakan frase yang tepat. c) menggunakan intonasi suara yang wajar agar
makna mudah dipahami. d) memiliki watak dan sikap yang baik serta menjaga buku
dangan baik. e) menguasai tanda baca sederhana.
Kelas II: a) anak-anak harus membaca dengan
terang dan benar. b) mereka harus membaca dengan penuh perasaan. c) membaca
tanpa terbata-bata.
Kelas III: a) membaca dengan penuh perasaan.
b) mereka harus mengerti dan memahami bahan bacaan yang dibacanya.
Kelas
IV: a) memahami bahan bacaan pada tingkat dasar. b) kecepatan mata dan suara.
Kelas
V : a) membaca dengan pemahaman dan perasaan. b) kecepatan membaca nyaring
bergantung pada bahan bacaan. c) dapat membaca terus-menerus melihat pada bahan
bacaan.
Kelas
VI : a) membaca nyaring harus penuh perasaan dan ekspresi. b) membaca harus
dengan penuh kepercayaan.
III: Membaca Dalam Hati
A.
Pengantar
Pada pembahasan bab ini, penulis
menjelaskan bahwa pada saat membaca dalam hati kita hanya di dituntut untuk
menggunakan ingatan visual, yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan kita.
Tujuan utama membaca dalam hati yaitu kita dapat memperoleh informasi. Membaca
dalam hati dapat membuat kita mencapai kecepatan dalam pemahaman frase-frase,
memperkaya kosa kata dan kita dapat memperoleh keuntungan dalam hal keakraban
dengan sastra yang baik. Setelah membaca dalam hati guru dapat menyuruh dan
mendorong para pelajar untuk mengutarakan yang mereka baca, dan hal ini dapat
memudahkan pengujian pertumbuhan mereka.
Penulis
juga menjelaskan membaca dalam hati itu terbagi menjadi dua yaitu: membaca
ekstensif dan membaca intensif.
B.
Membaca ekstensif
1.
Membaca survei
membaca survei yaitu kegiatan seseorang
meneliti terlebih dahulu apa yang akan di bahasnya. Ada beberapa jalan membaca
survei yaitu: a) memeriksa, meneliti indeks-indeks. b) meneliti judul-judul bab
yang terdapat dalam buku. c) meneliti bagan, skema,outline buku yang
bersangkutan.
2.
Membaca sekilas
Membaca sekilas yaitu jenis membaca yang
hanya mata kita yang bergerak dengan cepat melihat untuk mencari dan
mendapatkan informasi yang ada dalam buku tersebut.
Ada
tiga tujuan dalam membaca sekilas: a) untuk memperoleh suatu informasi dari
suatu buku atau artikel, tulisan singkat. b) untuk menemukan hal tertentu dari
suatu bacaan. c) untuk menemukan bahan yang diperlukan dalam perpustakaan.
3.
Membaca dangkal
Membaca dangakl bertujuan hanyan untuk
memperoleh pemahaman dangkal yang bersifat luaran yang tidak mendalam dari
suatu bacaan.
C.
Membaca intensif
Membaca intensif adalah suatu studi
seksama, telaah teliti, penanganan teperinci yang dilakukan didalam kelas
terdahap suatu tugas yang pendek misalnya dua atau empat halaman setiap hari.
Ada beberapa yang termasuk dalam kelompokmembaca intensif adalah: a) membaca
telaah isi. b) membaca teaah bahasa.
D.
Keterampilan yang dituntut pada membaca
dalam hati
Penulis juga menjelaskan bagian-bagian
keterampilan yang dituntut membaca dalam hati seperti halnya membaca bersuara,
membaca dalam hati merupakan suatu kegiatan yang menuntut keaneka ragaman
keterampilan.
Bab
IV: Membaca Telaah Isi
A.
Pendahuan
Pada bab ini akan dijelaskan secara rinci
mengenai membaca telaah isi yang dapat di bagi menjadi 4 yaitu: 1) membaca
teliti. 2) membaca pemahaman. 3) membaca kritis. 4) membaca ide.
B.
Membaca teliti
Pada pembahasan ini jenis membaca teliti ini
menuntut suatu pemutaran atau pembalikan pendidikan yang menyeluruh. Membaca
teliti ini membutuhkan sejumlah keterampilan yaitu: 1) survei yang cepat untuk
memperhatikan, melihat organisasi dan pendekatan umum. 2) kita harus membaca
secara saksama dan membaca berulang-ulang paragraf-paragraf tersebut untuk
menemukan kalimat-kalimat judul dan perincian-perincian penting. 3) penemuan
hubungan setiap paragraf dengan keseluruhan tulisan atau artikel.
-
Membaca paragraf dengan pengertian
Sebuah
paragraf yang tertulis rapi biasanya terdapat sebuah pikiran pokok. Pikiran
pokok tersebut terdapat pada awal paragraf.
Ada beberapa cara untuk mengembangkan ikiran pokok antara lain: a) kita
harus mengemukakan alasan-alasan. b) dengan mengutarankan perincian-perincian
kita c) kita dapat membuat satu atau
lebih contoh. d) kita dapat membandingkan atau mempertentangkan dua hal.
-
Membaca pilihan yang lebih panjang
Kemampuan untuk menghubungkan
paragraf-paragraf tugal dengan penggalan keseluruhan tulisan sangat penting
dalam membaca teliti. Begitu pula kita harus bisa membeda-bedakan antara
paragraf-paragraf yang memuat serta menyajikan ide-ide pokok dan
paragraf-paragraf yang hanya sema-mat untuk menguraikan atau menerangkan
ide-ide yang terdapat dalam suatu paragraf yang terdaluhu.
Pada dasarnya pengajaran bahasa indonesia
dilembaga-lembaga pendidikan harus dilaksanakan, tidak hanya oleh guru-guru
bahasa indonesia saja tetapi juga oleh guru-guru mata pelajaran lain. oleh
karena iti setiap guru harus memiliki bahasa indonesia secara baik dan benar,
dan juga diperlukan untuk menyajikan mata peklajaran yang diajarkannya kepada
siswanya.
-
Membuat catatan
Jika kita membuat catatan itu akan sangat
membantu kita dalam proses pembelajaran. Ada tiga proses aktual pembuatan
catatan untuk mrmbantu kita antara lain: a) dapat membantu kita dala memahami
apa yang kita baca atau kita dengar. b) dapat membuat kita terus-menerus
mencari fakta-fakta dan ide-ide pennting. c) dapat membantu ingatan kita.
Jika kita ingin membuat catatan mengenai
bacaan kita, ada baiknya kita memperhatikan serta mengingat hal-hal berikut: 1)
bacalah sekilas seluruh kutipan sebelum dicatat. 2) tentukan apakah kita perlu
mencatat semua hal-hal kecilnya ataukah hanya ide-ide entingnya saja. 3)
buatlah cacatan dengan menggunakan kata-kata sendiri. 4) kembangkanlah sistem
sendiri mengenai singkatan yang dapat dipergunakan menghemat waktu. 5) kalau
kita mengutip bahan pakailah tanda-tanda kutipan dan catatlah sumber kutipan
itu dengan jelas. 6) buatlah catatan-catatan yang jelas dan tepat. 7) setelah
kita selesai meembuat catatan itu, periksalah kembali semua hal penting telaah
yang tercatat.
-
Dalam kelas
Pada saat guru kita ingin menyampaikan
informasi melebihi yang ada di dalam buku dan mempergunakan pendekatan kuliah.
Dalam situasi seperti itu perlu diperhatikan hal-hal berikut: a) jangan
berusaha mencatat atau merekam segala sesuatu yang dikatakan oleh guru
tersebut. b) dengarkan isyarat-isyarat yang diberikan oleh guru yang menandakan
bahwa yang dikatannya itu benar. c) kalau kita pikir bahwa kita lupa mencatat
sesuatu yang penting tinggal satu spasi dalam buku catatan kita. d) secepat
mungkin sesuai pelajaran dikelas itu perhatikan kembali seluruh catatan
tersebut untuk memasukkan fakta-fakta atau ide-ide yang penting kedalam ingatan
dan pikira kita serta mempebaiki hal-hal yang penting terhadap catatan yang
telah kita perbaiki.
-
Menelaah tugas
Agar
para siswa dapat menyelesaikan dan menelaah tugas dengan baik ,mereka sebaiknya
mereka telah dibiasakan dengan cara studi SQ3R adalah: a) survei (penelitian
pendahuluan). b) question (tanya). c) read (baca). d) recite (ceritakanlah
kembali dengan kata-kata sendiri). e) review (tinjau kembali).
C.
Membaca Pemahaman
Pada
bagian ini menjelaskan bahwa membaca pemahaman
bertujuan untuk memahami: 1) standar-standar atau norma-norma
kesastraan. 2) resensi kritis. 3) drama tulis. 4) pola-pola fiksi.
1.
Standar kesastraan
Para
penulis kreatif dalam bidang-bidang fiksi, drama, puisi, biografi, otobiografi,
esei populer, dan sebgainya memiliki beberapa pengalaman hidup yang hendak
disampaikan kepada para pembaca.
Sebagai
seorang seniman yang kreatif, pengarang sanngat sensitif terhadap kekuatan dan
keindahan kata-kata. kesusastraan dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara
antara lain: puisi atau prosa, fakta atau fiksi, klasik atau modern, subjektif
atau objektif, eksposisi atau normatif.
2.
Resensi kritis
Agar
kita dapat inpormasi mengenai apa yang dikirkan serta dituliskan oleh
orang-orang besar dalam kehidupan, seseorang dapat membaca resensi—resensi
kritis mengenai fiksi maupun yang non fiksi. Tulisan-tulisan singkat seperti
itu yang biasanya dapat dibaca dalam bebera menit, mempunyai empat kegunaan: a)
membuat komentar-komentar mengenai kesegaran eksposisi atau cerita. b)
mengutarakan komentar-komentar mengenai bentuk, serta penilaian atau manfaat
kesastraan umum bagian tersebut. c) memberikan suatu rangkuman pandangan,
pendirian. d) mengemukakan fakta-fakta untuk menunjang pertimbangan dan
penilaiannya serta analisis isi dengan cara mengutip secara langsung pada
karakter-karakter situasi dan bahkan halaman-halaman tertentu pada buku.
3.
Drama tulis
Drama
tulis ada kaitannya dengn masalah apresiasi, masalah pengertian dan
penghargaanya, disini dijelaskkan ada dua cara untuk menikmati sandiwara/drama. Yang
pertama pada tingkatan aksi primitif, dalam hal ini hati penonton penuh
ketegangan, sehingga menimbulkan keinginan besar penonton untuk melihat betapa
caranya hal itu dikeluarkan , diperankan. Kedua adalah tingkatan individual yang
bersifat interpretatif, dalam hal ini pembaca bisa menarik
kesimpulan-kesimpulan , menvisualisasikan tokoh-tokoh, memproyeksikan
akibat-akibat, serata mengadakan interpretasi ketika dia membaca. dengan
bantuan sederhana sepperti itulah, seorang pembaca yang baik depat menghayati
serta menghidupkan suatu drama tulis.
Penulis juga menjelaskan suatu sikap kritis
yang logis terhadap drama, diantaranya ialah mengerti akan prinsip-prinsip
drama, unsur-unsur drama, dan jenis-jenis drama. Pada abad ke-18, seorang
dramawan jerman yang bernama Goethe mengemukakan tiga prinsip kritik drama,
yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yaitu: apakah yang hendak dilakukan
oleh seniman?, beratapa baikkah di melakukan itu?, bermnfaatkah hal itu
dilakukan?.
Unsur-unsur drama meliputi: plot,
karakteristik, dialog dan aneka sarana kesusastraan. Jenis –jenis drama
meliputi: tragedy, komedi, melodrama, dan farce.
4.
Pola-pola fiksi
Fiksi merupakan penyajian dimana cara
seorang pengarang memandang tentang hidup. Menurut (brooks, purser and warren,
1952:9) fiksi merupakan suatu istila yang digunakan untuk membedakan uraian
yang tidak bersifat histori, dengan penunjuk penekanan khusus pada segi sastra.
-
Fiksi dan non fiksi
Fiksi adalah suatu karya yang tidak memiliki
nilai kebenarannya.
Sedangkan non fiksi adalah suatu
karya yang memiliki nilai kebenaranya.
Ada
beberapa unsur fiksi antara lain: tema, plot, pelukisan watak, konfik, latar,
pusat.
-
Jenis-jenis
fiksi
Pada
pembahasan ini penulis mengemukakan jenis-jenis fiksi menjadi beberapa bagia;
Pertama,
berdasarkan bentunya fiksi dapat di bagi menjadi 5 golongan yaitu: novel,
novelette, short story, short short story, vignette. Kedua, berdasarkan isi: impresionisme,
romantik, realisme, sosialis-realisme, realisme sebenarnya, naturalisme,
ekspresionisme, simbolisme. Ketiga, berdasarkab kritik sastra: novel yang
menuntut kritik sastra yang serius, novel-novel yang berada di bawah taraf
kritik sastra yang serius.
D.
Membaca
Kritis
Di bagian ini penulis menjelaskan bahwa
membaca kritis adalah sejenis membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh
tenggang hati, menndalam, evaluatif, serta analitik dan bukan hanya mencari
kesalahan. Membaca kritis ini menuntut para pembaca agar memahami maksud
penulis, memanfaatkan kemapuan membaca, berpikir kritis, dan juga memahami
organisasi dasar tulisan.
E.Membaca Ide
Pada bagian ini penulis menjelaskan memca ide
itu, memba ide adalah suatu kegiatan membaca yang ingin memcari, mempeloreh,
serta memanfaatkan ide-ide yang ada pada
bacaan. Berikut ini dijelaskan tentang pembaca yang baik antara lain:
Pembaca yang baik dia tahu mengapa dia
membaca, pembaca yang baik memahami apa yang dia baca, pembaca yang baik dia
harus menguasai kecepatan membaca, dan pembaca yang baik dia harus mengenal
media cetak.
Membaca Telaah Bahasa
A. Pendahuluan
Pada bab
ini dijelaskan tentang membaca telaah bahasa terbagi menjadi dua hal yaaitu:
membaca bahasa (asing) atau (foreign language reading) dan membaca sastra
(literary reading).
B. Membaca
Bahasa
Pada bagian ini menjelaskan mengenai tujuan utama
pada membaca bahasa antara lain; memperbesar daya kata, mengembangkan kosa kata
.
1.
Memperbesar daya kata
Dalam kegiata membaca bahasa, kita perlu
mempebesar daya kata. ada beberapa untuk memperbesar daya kata tersebut antara
lain: ragam-ragam bahasa, mempelajari makna kata dari konteks, bagian-bagian
kata,, penggunaan kamus, makna-makna varian, sinonim dan antonim, konasi dan
denotasi.
Pada
garis besarnya bahasa iu dibagi menjadi 5 bagian yatu: bahasa formal atau
bahasa resmi, bahasa informal, bahasa percakapan, bahasa kasar, dan bahasa
slang.
a.
Mempelajari makna kata dari konteks
Untuk mempelajari makna kata dari konteks
ada dua cara yaitu: melalui pengalaman dan melalui bacaan. ada beberapa cara
konteks yang dapat mencerminkan makna suatu kata dengan cara: konteks dapat
membatasi kata, konteks dapat memasukkan suatu perbandingan atau pertentangan suatu
komparasi atau kontras yang dapat menolong kita dalam memahami makna kata,
suasana.
b.
Bagian-bagian kata
Bagian kata itu terdiri dari beberapa bagian
yaitu: prefiks (awalan), root (akar atau dasar kata), suffiks (akhiran), infiks
(sisipan).
c.
Penggunaan kamus
Kamus adalah buku yang berisi kata-katan
beserta keterangan arti atau makna. Bahasa adalah sesuatu yang hidup,
berkembang dan berubah. Atau bahasa itu dapat diartikan suatu alat komunikasi
yang mempermudah kita untuk menyampaikan suatu pokok pikiran.
d.
Aneka makna
Pada bagian ini kita harus memiliki suatu
kebiasaan memperlihatkan makna-makna yang berbeda yang terkandung alam suatu
kata yaitu; kata-kata yang sama bentuk bunyinya, tetapi berlainan makna. Idiom
(ungkapan) adalah sebuah kelompok kata yang menuntut perlakuan khusus. Idiom
merupakan ekspresi yang tidak dapat dimengerti dari makna terpisah, makna
sendiri-sendiri, setiap kata dalam kelompok itu. Kata-kata tersebut harus
diperlakukan sebagai sutu keseluruhan. Comtoh: buang tangan = oleh-oleh.
e.
Sinonim dan antonim
Sinonim
adalah persamaan kata atau mempunyai makna yang sama, tetapi berbeda dalam
konotasi atau nilai kata. contoh:mati = meninggal dunia, wafat, mampus.
Antonim
adalah lawan kata atau mempunyai makna yang berbeda. Contoh; miski = kaya,
cantik = jelek, pintar = bodoh.
d.
Konotasi
Konotasi atau nilai kata cenderung menyentuh hati secara mendalam.
Secara umum konotasi terbagi menjadi dua yaitu: konotasi pribadi dan konotasi
umum. Konotasi pribadi itu hasil dari pengalaman kita. sedangkan konotasi umu
itu hasil dari pengalaman orang sebagai suatu kelompok sosial.
Setiap
kata mempunyai arti pusat dan tambahan; mempunyai denotasi dan konotasi.
Denotasi mengarah pada batasan arfiah suatu kata. penguasaan dan pemahaman
konotasi kata-kata itu sangat diperlukan bagi pembaca agar memperoleh yang
lebih baik dalam usaha peningkatan daya kata.
2.
Mengembangkan kosa kata kritik
Dalam upaya mengembangkan kata-kata
kritik, kita perlu mengetahui beberpa hal yaitu: bahasa kritik sastra, memetik
makn dari konteks, petunjuk-petunjuk konteks. Dalam bagian ini dijelaskan bahwa
bahasa kritik sastra meliputi: kebanyakan kata dalam pemakaian umum mengandung
lebih dari satu makna, kita tidak akan pernah memperoleh segala makna dari
sesuatu kata dalam setiap pertemuan dengannya.
Dibagian ini pula dijelaskan memetik
makna dari konteks yaitu: makna yang bersifat majemuk, makna konotatif, makna
denotatif. Makna denotatif yaitu sesuatu kata atau segala yang kita sering kita
sebut denotasinya adalah suatu atau segala sesuatu yang dapat diterapi oleh
kata tersebut. makna designatif adalah jumlah karateristik yang harus dimiliki
oleh benda tertentu kalau kata itu ditetapkan padanya. Makna konotatif adalah
segala sesuatu yang disarankan, yang dianjurkan oleh kata.
Dan petunjuk-petunjuk konteks meliputi:
definisi atau batasan, metode yang paling jelas dan langsung mencerminkan makna
adalah dengan suatu batasan atau definisi ppada waku itu juga. Uraian baru,
bagi seorang penulis adang-kadang dia menggunakan istilah atau frase dengan
jalan menerangkan dengan cara lain dengan suatu uraian baru. Mempergunakan
pengubah, suatu frase atau klausa pengubah, seseorang memperkenalkan makna
seuatu istilah. Mempergunakan kontraks, bagi seorang penulis membuat suatu kontraks,
akan memprmudah pembaca menguraikan serta mengetahui suatu makna kata baru.
C. Membaca
Sastra
Pada bagian
ini dijelaskan tentang membaca sastra. Keindahan suatu karya sastra itu
tercermin dari keserasian, keharmonisan, antara keindahan bentuk dan keindahan
isi. Dengan kata lain, sebuah karya sastra itu dikatakan indah kalau, baik
berupa bentuk maupun isinya sama-sama indah, ditemukan keserasian, keharmonisan
antara keduanya. Untuk itu, diperlukan beberapa norma yaitu; norma estetika,
sastram dan moral.
1.
Bahasa ilmiah dan bahasa sastra
Kalau kita memberbicara tentang perbedaan
penggunaan bahasa dalam karya ilmiah dan karya sastra, pada dasarnya kita
memberbicara tentang konotasi dan denotasi dalam kegiatan menulis. Oleh karena
itu, dalam tulisan, kita harus memperhatikan benar atau salahnyan konotasi kata
teersebut.
2.
Gaya bahasa
Membicarakan mengenai suatu gaya bahasa ini
akan kita batasi pada hal-hal yang umum saja antara lain; perbandingan yang
mencangkup metafora, kesamaan, dan analogi. Hubungan yang mencangkup metoninia,
dan sinekdoke. Taraf pernyataan yang mencangkup hiperbola, litotes, dan ironi.
a.
Perbandingan
Mertafora
adalah
suatu jenis gaya bahasa yang perbandingannya paling singkat, padat, dan
tersusun rapi.
Kesamaaan
adaalah
suatu pernyataan secara tidak langsung adanya kesamaan, antara dua hal, gaya
bahasa kesamaan.
Analogi
adalah
dia hanya melihat beberap titik persamaan, bukan hanya satu saja.
b.
Hubungan
Metoninia
adalah penggunaan satu kata bahasa saja bagi yang lainnya.
Sinekdoke
adalah
memberikan nama suatu bagian apabila yang dimaksud adalah keseluruhan,
aatausebalikny.
c.
Pernyataan
Hiperbola
adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan.
Litote
adalah
sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan.
Ironi
adalah
sejenis gaya bahasa yang menyatakan sacara tidak langsung sesuatu yang nyatanya
berbeda, bahkan dia juga bertentangn dari apa yang sebenarnya dikatakan.
·
Komentar:
Menurut saya buku Membaca Sebagai Suatu Keterampilan
Berbahasa karangan Prof. DR. Henry Guntur Tarigan ini, dari segi isinya sangat
bagus dan mudah dipahami oleh pembaca dalam mempelajari dan memperdalam
ketermpilan membacanya. Didalam buku ini juga menjelaskan secara rinci ttentang
pengertian beserta contohnya pada setiap bab. Di buku ini dijelaskan bagaimana
cara menjadi pembaca yang baik dan bagaimana memahami makna sebuah materi.
Tidak hanya itu di buku ini juga memberikan saran bahwa setiap guru harus memiliki penguasaan
bahasa Indonesia secara baik dan benar. Namun, untuk latihan atau tugas pada
setiap bab tidak ada tersedia. Sehingga para mahasiswa dan pembaca tidak bisa
menguji kemampunnya yang telah dipelajari setiap bab.
·
Buku Pembanding
Pembaca juga membaca buku tentang “ Keterampilan
Membaca Cerdas” sebagai buku pembanding. Buku dikarang oleh Dr. Ermanto, M.Hum.
penerbitnya adalah UNP. Buku ini diterbitkan pada tahun 2008. Ketebalan buku
ini mencapai 179 halaman.
Garis besar buku ini adalah
keterampilan membaca dan membaca cerdas sangat penting karena perpaduan antara
kecepatan membaca dan kemampuan pemahaman, serta untuk menyerap informasi dan
ilmu pengetahuan yang dapat melintas ruang dan waktu
Buku keterampilan membaca cerdas
ini sangat bagus untuk guru, dosen, mahasiswa maupun pembaca.karena buku ini
lebih lengkap dan penjelasannya lebih runtun dan teratur serta mudah dipahami
materi yang disampaikan dari setiap bab dibandingkan dengan buku karangan Henry
Guntur tarigan. Dalam buku ini juga memberikan latihan untuk lebih memahami
materi yang telah disampaikan.
·
Penutup
Buku Membaca Sebagai Suatu Keterampilan
Berbahasa karangan Prof. DR. Henry Guntur Tarigan ini, sangat bagus dibaca oleh
guru, dosen, dan mahasiswa dari program studi mana saja, yang khususnya Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Banyak yang dapat kita ambil dari
buku ini, yaitu untuk meningkatkan minat baca, dan memperbanyak kosa kata.
tidak hanya itu buku ini juga menjelaskan tentang bagaimana menjadi pembaca yang baik dan memahami makna dari
yang disajikan.
Buku ini sangat
bagus, dan juga isinya sangat bermanfaat bagi pembaca. Akan tetapi, saya
sebagai penulis laporan buku ini, saya mengharapkan kepada penulis agar memberi
atau mencantumkan soal-soal atau kegiatan-kegutan pada setiap akhir bab. Hal ini
dikarenakan untuk menguji pemahaman
peserta didik atau mahasiswa.
Daftar Pustaka
Ermanto. 2008. Keterampilan Membaca Cerdas. Padang :
UNP Prees
Tarigan, Hendry Guntur.
2008. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan
Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa